Review Film: Mantan Manten, Tradisi dan Sebuah Bentuk Keikhlasan

Hujan baru saja usai mengguyur kota Yogyakarta, tempat kelahiranku sekaligus tempat tinggalku. Nafas dan aroma Jogja sudah mengakar kuat di dalam ragaku. Jujur, meski demikian adat istiadat Jawa sama sekali tak kumengerti. Selain bukan orang terpandang dan turunan bangsawan, orang-orang yang berada di sekitarku juga bukan orang Jawa asli.

Maka wajar saja, bila tradisi pernikahan Jawa lengkap dengan ritual-ritualnya yang disajikan dalam film Mantan Manten ini membuka pintu cakrawala di pikiranku. Pengetahuanku tentang Paes atau yang biasa aku sebut tukang rias manten ini benar-benar dibukakan dalam film ini.

Saya sungguh beruntung bisa bergabung dengan nobar yang diadakan oleh komunitas Kompasiana Jogja (K-JOG). Acara ini diramaikan oleh 30 anggota dari Blogger dan Kompasianer. Kebetulan hari itu adalah tayang perdana film Mantan Manten, yang diproduseri oleh Anggia Kharisma dan Kori Adyaning (Visinema Pictures).

Penulis skenario-nya adalah Jenny Yusuf, Farishad Latjuba yang sekaligus menjadi sutradara film ini. Hmm, aku angkat jempol deh buat para sineas ini. Kan, nggak banyak film Indonesia yang berani mengangkat budaya sebegitu dalam.

Di tengah gempuran film bergenre drama, komedi dan horor, Visinema justru menggali tentang profesi Paes yang nyaris hilang tergerus arus modernisasi. Setahuku sih, jarang banget pengantin jaman now yang masih pakai ritual adat lengkap. Alasannya, ribet dan makan biaya banyak. Ya, jadi manten itu mahal, guys. Maka menabunglah selagi masih jomblo #ehh.

Sepanjang pemutaran film, saya malah fokus sama wajahnya Atiqah Hasiholan(Yasnina), mirip nggak sih sama ibunya? Kok dia lebih mirip sama Tutie Kirana (yang memerankan Budhe Marjanti)? Wah, pasti karena chemistry diantara keduanya sudah membaur jadi satu, kaliii. Jadi mereka mirip seperti ibu dan anak, he, he.

Yasnina adalah gambaran wanita modern yang hidup dalam kelimpahan, sukses dan memiliki tunangan bernama Surya yang diperankan oleh Arifin Putra. Namun semua kesuksesan itu tak bertahan lama. Hingga dia harus menempuh perjalanan ratusan kilometer ke sebuah desa yang berada di Solo, Jawa Tengah.

Suasana sejuk pedesaan dan tipe rumah berciri khas pegunungan mulai memanjakan mata penonton. Detil pernak-pernik pernikahan adat Jawa mulai disuguhkan. Tak lupa kehadiran Darto yang diperankan oleh Dodit Mulyanto menambah warna tersendiri bagi film ini. Gelak tawa pun pecah di studio empat Empire XXI Yogyakarta ini.

Pasti tidak mudah bagi kedua wanita yang berlatar belakang berbeda untuk tinggal bersama dalam satu rumah. Kalau saya boleh bilang, Yasnina dan Budhe Mar ini sama-sama keras, mandiri, sebatang kara tapi berbeda adat dan kebiasaan. Yasnina sebagai orang kota lebih mengutamakan karier, sementara Budhe Mar lebih memikirkan bagaimana nasib tradisi Paes ke depan. Ya, di sinilah terjadi simbiosis mutualisme diantara keduanya.

Yasnina rela tinggal di desa untuk membalas dendam, sementara Budhe Mar ingin menyiapkan generasi penerusnya.

Usai menonton film Mantan Manten ini banyak pelajaran yang saya terima diantaranya adalah kalau beli rumah langsung dibalik nama, jadi nggak ribet kalau pengen menjual lagi rumah itu. Apalagi sampai ngemis-ngemis.

Jadilah pria yang bertanggung jawab, nggak boleh meninggalkan pasangan saat dalam kesusahan. Masak iya, kamu suka di dekatnya pas dia lagi senang aja?

Tradisi itu perlu dijaga dan dilestarikan. Mulai sekarang mulailah belajar tentang budaya sendiri minimal adat di mana kita tinggal dulu.

Profesi apa saja yang sedang dijalani sekarang haruslah dikerjakan dengan sepenuh hati maka rejeki itu akan mengalir seperti air. 

IG Mantan Manten

Seburuk apapun keadaanmu, bangkit dan berusaha lagi. Jangan banyak mengeluh. Jalani semuanya dengan keikhlasan. Kalau mantan jadi manten, ya udah ikhlaskan saja. Oke?

Udah sekian review saya tentang Mantan Manten. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca 🙂

Salam hangat,

Jono

Advertisements

Pura-pura Menjadi Dilan

I’am here because of Your grace, I’am here because of Your love.

Lord Jesus, I’am so thankfull for Your love abounds to me.

Cie, cieee… Tumben pagi-pagi nyanyi-nyanyi, padahal biasanya masih bobo nggak cakep di kamar.

He, he… Sekarang kan aku tugas doa di gereja jam 5 pagi. Padahal semalam udah dari gereja. Kalo dipikir sih, males banget menempuh jalan puluhan kilometer bolak-balik gitu. Tapi tema kotbah minggu ini adalah ketaatan. Dan aku mau belajar taat.

Pura-pura aja aku jadi Dilan yang memboncengkan Milea ke mana aja. Hmm, ngomongin soal Dilan, aku mirip nggak sama dia? He, he *ngarep.

Nyatanya aku bukanlah Dilan. Aku hanya JO-NO, Jono, Jono dan JONO. Tidak lebih dari Jono. Sebuah nama yang sederhana, kesan jowo dan ndeso. Tapi rejeki tetap kota ya!!!

Aku ada sebagaimana aku ada di saat ini. Suka duka sudah kulewati. Tapi yang kupegang selama hidup ini adalah rasa syukur saja. Jika mengeluh itu pasti bikin hidup lebih susah. Nelongso, mengasihani diri sendiri itu berat, aku nggak akan sanggup, biar Dilan aja…eh#

Aku bukanlah orang kaya dan nggak ingin jadi kaya atau banyak uang. Karena aku tidak menilai orang kaya itu dari gaya glamor, hidup mewah, banyak uang, banyak mobil, dll. Untuk apa punya semua itu tapi nggak sejahtera.

Selama aku hidup di bawah matahari, di atas bumi, bisa bekerja, bisa makan, punya teman, istri, saudara, bagiku sudah cukup. Memang untuk mengumpulkan teman, suadara itu butuh uang. Mereka butuh biaya. Butuh ditraktir. Butuh makan. Aku nggak mengemban motto makan nggak makan asal kumpul. Bagiku itu bohong. Nggak makan ya laper, bro!

Mana ada kumpulan tanpa makan? Paling tidak ada teh, air putih, cemilan. Itu cukup bikin hubungan jadi cair. Nggak perlu kali kirim tukang pijet ke istri saat dia sakit. Ingat aku bukanlah Dilan. Bukannya nggak romantis, tapi istriku memang nggak suka dipijat. Baginya pijat adalah sebuah penyiksaan, traumanya mirip orang habis digebukin. Hmm, aku penasaran, memang dia udah pernah digebukin ya?

Sudahlah, memang aku bukanlah Dilan. Hanyalah seorang Jono yang sederhana dan ndeso tapi rejeki kota.

Salam,

Jono.

Welcome to Parkjoyu’s Home

Perjalanan Awal untuk Menulis

“Karena kita hanya akan melewati perjalanan hidup ini cuma  satu kali” — Dwi Parjono

Mas Jono
Sedang Berburu Foto

Ini merupakan blog pertamaku. Tujuanku membuat blog ini nggak lain hanya untuk menyimpan berbagai kisah perjalanan wisata sekaligus bukti kenekatan karena sama sekali nggak bisa nulis tapi bikin blog. Jadi jangan heran jika tulisannya agak sedikit amburadul dan berasa seperti gado-gado nggak pake bumbu kacang. Karena hanya inilah kemampuan yang sebenarnya dari Mas Jono. 

Jangan tanya kenapa blognya namanya “Parkjoyu”. Bukan mau mirip-miripin nama sama orang Korea sih. Cuma pengen membuat nama yang bukan sekedar Parjono aja. Kata ParJoYu adalah singkatan dari Par=Parjono+Jo=Jono+Yu=Yus ada tambahan K ditengah biar mirip nama Park yang berarti taman. ParkJoYu bisa diartikan “taman cerita Jono dan Yus”. FYI, Yus adalah istri, partner hidup, rekan kerja, penolong dan calon ibu dari anak-anakku. 

Maafkan jika aku sedikit narsis di sini. Tapi percayalah cerita wisata yang kubagikan ini real, tanpa hoax dan sedikit diberi bumbu biar lezat, he, he. 

Sekian dulu perkenalan singkat dari saya.

Salam hangat, 

Mas Jono